PENDEKATAN PENGHIDUPAN LESTARI

(Susutainable Livelihood Approach) 

Pembangunan masyarakat (community development), memiliki pengertian sangat luas, namun sering diartikan sebagai pemberdayaan individu dan kelompok dari masyarakat yang dilakukan oleh kelompok itu sendiri. Hal ini bisa dilakukan dengan bekal ketrampilan yang dimiliki oleh kelompok itu sehingga terjadi perubahan pada penghidupan mereka. Ketrampilan ini sering diartikan sebagai pengembangan kemampuan secara politis yang tersusun dalam agenda kerja kelompok dalam cakupan yang besar. Dengan demikian pembangunan harus dimengerti sebagai kegiatan yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh masyarakat itu sendiri.

img

Proses pembangunan masyarakat secara aktif dan berkelanjutan berdasarkan keadilan sosial dan saling menghargai. Hal itu juga dipengaruhi oleh struktur kekuasaan, di mana masyarakat yang tidak mampu secara partisipatif melakukan penguatan dalam kehidupan mereka. Sedang dalam pembangunan tersebut, masyarakat difasilitasi oleh pekerja masyarakat, yang akan menfasilitasi proses secara partisipasi sehingga masyarakat didorong untuk mengembangkan kebijakan dan program-program pembangunan untuk mereka. Hal ini menggambarkan nilai-nail keterbukaan, kesetaraan, tanggunggugat, kesempatan yang sama dalam memilih, partisipasi, saling membutuhkan, saling memberi dan belajar yang berkelanjutan. Sedangkan pembelajaran, ketersediaan dan pembedayaan merupakan prinsip dari pengembangan masyarakat.  

Dengan demikian community development adalah perubahan yang direncanakan dalam segala aspek kehidupan masyarakat (baca ekonomi, lingkungan hidup dan sosial-budaya). Ini merupakan proses di mana anggota masyarakat bersama-sama menyelesaikan masalah, menjadi sebuah tantangan bersama. Jadi Community Development dapat diartikan sebagai sebuah pernyataan tujuan dari pembangunan masyarakat, dan atau cita-cita yang ingin dicapai melalui upaya bersama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Jelas bahwa untuk melakukan pembangunan masyarakat, dibutuhkan pengerak atau disebut juga organisator masyarakat (community organizer) agar pembangunan dapat dilakukan dalam kegiatan yang terintegrasi, konstruktif dan terorganisir, atau saat ini lebih dikenal dengan sebutan Fasilitator Masyarakat (community facilitator).

Untuk menjadi fasilitator masyarakat, sedikitnya harus menguasai dan memahami siklus penguatan kapasitas, agar mampu melakukan fasilitasi pembangunan masyarakat. Seri belajar yang ditawarkan adalah pelatihan menyusun rencana strategi pembangungan masyarakat dengan menggunakan pendekatan penghidupan lestari (sustainable livelihood approach) dan melakukan analisa atau pengkajian terhadap modal yang dimiliki suatu masyarakat. Ini merupakan tahap awal di mana Fasilitator sudah diterima masyarakat, kemudian tahapan yang kedua yaitu proses sistematis pembelajaran dan menganalisis berbagai struktur dan kekuatan dalam masyarakat secara ekonomi, politik dan sosial-budaya dalam 5 modal penghidupan. Maka untuk menyusun profil yang tepat fasilitator harus mengusai salah satu alat Analisa yang ada, yaitu Pengkajian Perikehidupan yang Lestari (sustainable livelihood assessment). Data yang ada disusun berdasarkan 5 modal perikehidupan untuk mendapatkan gambaran profil suatu masyarakat dan mengetahui potensi lainnya yang dapat dimanfatkan masyarakat sebagai alternatif penghidupan (livelihood) yang dapat dikembangkan.

Sustainable Livelihood Assesment (SLA) itu dilakukan di lokasi dampingan Fasilitator. Hasil analisis dapat digunakan sebagai bahan menyusun strategi pembangunan yang akan dilakukan. Penguasaan alat Analisa ini adalah sebuah keharusan karena seperti proses penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, yang tertuang dalam Permendagri 114 Tahun 2014 dan atau Permendes 13/2021.