G-Team Work untuk Standard GRI 2021

course

Aplikasi perumusan topik material dan sistem manajemen pengelolaan data serta tim penyusun laporan berkelanjutan merujuk pada Standard GRI 2021 dan POJK 

Kenapa harus memakai G Team 2021 
Permasalahan yang sering terjadi dalam penyusunan Sustaianbility Report yang merujuk pada GRI adalah ketidak seimbangan pemahaman antara perusahaan dengan konsultan penulis tentang isi laporan. Konsultan lebih paham tentang isi standard GRI dan regulasi POJK sedangkan pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan keberlanjutan perusahaan relatif kurang memahami dibandingkan perusahaan. 
Disisi lain perusahaan tentu mengenal baik tujuan komunikasi laporan, berbagai dampak, kebijakan, hasil inisitaif keberlanjutan tetapi kurang memahami kriteria pemenuhan standard. Kesenjangan ini menjadikan laporan berkelanjutan tidak optimal sebagai sarana komunikasi kinerja keberlanjutan perusahaan. Tantangan masalah dan tersebut makin bertambah dengan perubahan standard dimana mulai awal Januari tahun 2023 berlaku standar baru yakni GRI 2021. 

Untuk membantu perusahaan merespon perubahaan, kami mengembangkan tool manajemen penyusunan dan menyiapkan data untuk pelaporan berbasis GRI 2021, G-Team Work 2021 akan membantu perusahaan meyiapkan kebutuhan data dan pemenuhan kriteria standard secara komprehensif. Dengan tool ini struktur dan tatacara penyusun laporan akan dipahami, sekaligus menjadi alat dalam melakukan koordinasi pengumpulan data. Aplikasi ini akan lebih efektif jika didahului oleh workshop GRI 2021 di internal perusahaan.

Worskhop penyusunan laporan GRI 2021 

Apa yang didapat jika memakai Tool G-Team 2021?

Tool G-Team Work 2021 akan membantu perusahaan dalam menilai, merumuskan dan menetapkan topik mataerial sesuai dengan persyaratan GRI, tool ini juga membantu mengorganisir tim kerja dalam mengumpulkan data. Kegunaan paling penting dari tool ini adalah memastikan perusahaan mengambil posisi pengendali dalam menentukan isi laporan sesuai dengan konteks dan tujuan pelaporan, merujuk pada standar pelaporan berkelanjutan GRI 2021 dan regulasi OJK, Tim kendali perusahaan memiliki kontrol yang kuat dalam menilai kualitas laporan. Sedangkan tim menyusun laporan atau konsultan penulis mendapatkan spesifikasi laporan beserta detail informasi yang harus diungkapkan. Hal ini tentunya akan memudah perusahan dan penulis secara bersama sama meningkatkan mutu laporan keberlanjutan, terutama dalam merespon perubahan standard pelaporan keberlanjutan GRI 2021.

Apa yang berubah dari GRI 2020 ke GRI 2021? 
Standar baru GRI menekankan pengungkapan informasi tentang dampaknya secara konsisten dan kredibel. Penekanan ini akan meningkatkan komparabilitas global dan kualitas informasi yang dilaporkan. Isi laporan yang memuat informasi dampak. Infromasi tersebut akan membantu pembaca laporan melakukan penilaian dan membuat keputusan yang terinformasi tentang dampak dan kontribusi organisasi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Perubahan yang mudah terlihat diawal adalah dari tata penomoran indeks, dari GRI 101 mejadi GRI 1, GRI 102 menjadi GRI 2 dan GRI 103 menjadi GRI 3. Perubahan ini diikuti oleh isi dari GRI 2 yang lebih sederhana dari GRI 102, pada GRI 2 diakomodasi bentuk badan tatakelola one board system dan two board system.

img

Perubahan pengungkapan umum GRI 102 menjadi GRI 2:
  1. Tidak ada lagi pilihan lingkup pelaporan inti atau komprehensif, bagian GRI wajib dipenuhi semua kalau ingin melakukan klaim laporan keberlanjutan (Sustainability Report) sesuai dengan standard GRI.
  2. Menekankan pada pelaporan dampak, yakni  efek yang ditimbulkan perusahaan terhadap ekonomi, lingkungan, dan manusia, termasuk efek pada hak asasi manusia mereka, sebagai akibat dari aktivitas atau hubungan bisnis organisasi. Dampak tersebut dapat bersifat aktual atau potensial, negatif atau positif, jangka pendek atau jangka panjang, disengaja atau tidak disengaja, dan dapat dibalik atau tidak dapat diubah. Dampak ini menunjukkan kontribusi organisasi, negatif atau positif, terhadap pembangunan berkelanjutan.
Perubahan dalam pendekatan penetapan topik material
  1. Pada standar sebelumnya pertimbangan dalam memutuskan suatu topik mataerial adalah signifikansi dampak ekonomi, lingkungan & sosial dan pengaruh pada penilaian & keputusan para pemangku kepentingan. Pendekatan ini memang memiliki kelemahan yakni perusahaan tidak perlu memberikan perioritas pada topik mataerial yang tidak menjadi perhatian stakeholders walaupun cukup berdampak pada sosial, ekonomi dan lingkungan. Pada GRI 2021 signifikansi dampak menjadi satu satunya dasar dalam memutuskan topik material yang dilaporkan.

  2. Perubahan ini mengharuskan perusahaan mengidentifikasi berbagai dampak yang diakibatkan oleh aktifitas perusahaan dan hubungannya. Dalam menyusun laporan harus memprioritaskan  topik-topik yang mewakili dampak paling signifikannya terhadap ekonomi, lingkungan, dan manusia, termasuk dampak pada hak asasi manusia mereka. Dalam Standar GRI, ini adalah topik material organisasi.

  3. Dalam menetapkan topik material, khusus sektor minyak dan gas, baturaba dan agrikultur dan perikanan terdapat rujukan serktor standard yakni GRI 11, GRI 12 dan GRI 13, untuk bisnis yang belum ada rujukan sektor standard harus memilih sendiri topik materialnya.  

Perubahan laporan kinerja.

Perubahan pendekatan penetapan topik material yang dilaporkan serta pergeseran, yakni dari mempertimbangkan pengaruh pada penilaian staleholder dan dampak menjadi hanya dampak saja membawa konsekwensi pada isi pelaporan pendekatan manajemen, yakni perubahan isi GRI 103 versi sebelumnya menjadi GRI 3 pada standard GRI 2021.

G TEAM 2021 (Free Trial Version)

G Team 2021

Rp 12,450,000